Anggita Maya Susanti
Artikel 1, KPI 2 C 2012
Abu Thalib bin Abdul
Muthalib (Wafat 3 SH) Nama sebenarnya adalah Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin
Hasyim, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra
pertamanya yaitu Thalib. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam, Ia adalah ayah dari Ali bin Abi
Thalib.
Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh.
Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam.
Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.
Abu Thalib adalah pahlawan Bani Hasyim terkemuka dan pemimpin mereka. Nabi mengajaknya masuk Islam tapi dia menolak.
Rasulullah berkata pada pamannya, “ Ucapkan Laa Ilaaha Illallah, aku akan bersaksi untukmu pada hari kiamat “, Abu Thalib menjawab, “ Seandainya orang Quraisy tidak mencelaku dengan mengatakan “ Abu Thalib mengucapkan itu karena hampir mati ”. Lalu Allah menurunkan ayat (At Taubah : 113) kepada Rasulullah.
Dari Al Abbas bin Abdul Muthalib, berkata, “Wahai Rasullulah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada Abu Thalib, sebab dia dulu memeliharamu dan membelamu?” Jawab beliau, “Benar, dia berada di neraka yang paling dangkal, kalau bukan karenaku niscaya dia berada di neraka yang paling bawah.“ (HR. Bukhari no. 3883, 6208, 6572, Muslim 209)
Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata, Disebutkan disisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda, ” Somoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih”. (HR.Bukhari 3885, 6564, Muslim 210)
Masih banyak riwayat lainnya yang menyatakan kekufuran Abu Thalib pada saat menjelang kematian. Ia wafat pada tahun 3 SH.
Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh.
Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam.
Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.
Abu Thalib adalah pahlawan Bani Hasyim terkemuka dan pemimpin mereka. Nabi mengajaknya masuk Islam tapi dia menolak.
Rasulullah berkata pada pamannya, “ Ucapkan Laa Ilaaha Illallah, aku akan bersaksi untukmu pada hari kiamat “, Abu Thalib menjawab, “ Seandainya orang Quraisy tidak mencelaku dengan mengatakan “ Abu Thalib mengucapkan itu karena hampir mati ”. Lalu Allah menurunkan ayat (At Taubah : 113) kepada Rasulullah.
Dari Al Abbas bin Abdul Muthalib, berkata, “Wahai Rasullulah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada Abu Thalib, sebab dia dulu memeliharamu dan membelamu?” Jawab beliau, “Benar, dia berada di neraka yang paling dangkal, kalau bukan karenaku niscaya dia berada di neraka yang paling bawah.“ (HR. Bukhari no. 3883, 6208, 6572, Muslim 209)
Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata, Disebutkan disisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda, ” Somoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih”. (HR.Bukhari 3885, 6564, Muslim 210)
Masih banyak riwayat lainnya yang menyatakan kekufuran Abu Thalib pada saat menjelang kematian. Ia wafat pada tahun 3 SH.
1.
Ramai – ramaibertemu Allah
Alasan : Karena dizaman sekarang
banyak manusia yang melakukan maksiat dengan melanggar perintah Allah, maka
muncul orang-orang yang menyalahgunakan dengan merasa memiliki kelebihan dan
kekuatan untuk berkomunikasi dengan Allah. Bahkan dengan liciknya, ada yang
menganggap dirinya sebagai Tuhan dengan membuat ramalan-ramalan yang sebenarnya
menyesatkan.
2.
Tasawuf yang lebih praktis
Alasan : Menurut saya tasawuf
dengan cara yang lebih praktis ini adalah baik. Gunanya adalah agar manusia
merasakan ketenangan dalam menjalankan kewajiban agamanya. Daripada dengan cara
bertasawuf yang sukar tetapi tidak ada hasilnya, lebih baik mudah dan praktis
tetapi berguna untuk banyak umat.
3.
Menjadi hamba Allah adalah pilihan yang harus diperjuangkan
Alasan : menurut saya menjadi
seorang hamba itu memang sudah berkewajiban untuk menyembah dan memperjuangkan
penciptanya. Mengapa kita harus menyembah-Nya? Itu kita lakukan semata-mata
untukmenunjukkan rasa syukur kita karena kita sudah diciptakan dengan bentuk
yang sesempurna ini walau kadang ada kekurangannya.
4.
DisiplinbernamaTarekat
Alasan : Tarekat merupakan cara untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan dengan syariat-syariat agama sebagai landasannya dan
didasari oleh Al-Qur’an dan sunnah dengan seorang pembimbing yang disebut Syekh.
5.
Manusia itu hamba Allah dan khalifah-Nya
Alasannya : menurut saya manusia
itu memang khalifah Allah karena manusia dapat membimbing, memerintah dan
kesanggupan untuk menguasai. Manusia juga mampu untuk menjalin hubungan dengan
Allah danbersinergi dengan kekuatan yang tak terbatas. Pada akhirnya manusia
menyadari bahwa pengalaman ruhaniah yang bisa dicapainya adalah sebagai hamba
Allah dan sebagai khalifah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar